Etika Guru dan Murid
off the record
Alhamdulillah, ini adalah posting ke-200 di blog saya tercinta ini. Meski tulisan-tulisan saya sederhana (dan ada sebagian yang copy-paste atas izin sang pemilik tulisan), tetapi alhamdulillah dapat berkelanjutan sampai sekarang. Saya teringat beberapa tahun yang silam bapak saya mengatakan, "mas, selama hidup usahakan menulis minimal 1 buku". Subhanallah, itu memotivasi saya untuk terus menulis di blog ini.
To the topic.
Suatu ketika, saya datang menghadap seorang dosen di kampus saya tercinta, diskusi tentang berbagai isu yang sedang terjadi dikampus. Mulai dari pelayanan yang kurang optimal di sebagian jurusan, hingga tata krama mahasiswa terhadap dosen yang terkadang kurang sopan, sehingga terjadi konflik yang tidak diinginkan. Ini membuat saya berfikir, mengapa harus terjadi, ketika mahasiswa hendak berkomunikasi dengan seorang guru itu terasa sulit. Dan sebaliknya, mengapa harus terjadi, ketika dosen menjelaskan sebuah ilmu yang baru ke mahasiswa, tidak ada respon yang baik.
Ternyata sahabat, dalam analisis saya, ini adalah masalah etika antara seorang guru dan seorang murid. Terkadang mahasiswa tidak tahu diri, dengan berbagai kesibukan dosennya. Sebaliknya, terkadang dosen mempersulit komunikasi dengan mahasiswanya, sehingga terjadi pembicaraan yang tidak baik.
Lalu bagaimana etika guru dan murid dalam pandangan Islam?
Dalam Ihyâ’ ‘Ulûm-i ‘l-Dîn, juga kupasan mengenai sopan-santun orang yang mengajar dan belajar (guru-murid). Juga kita sangat hafal kisah Imam al-Ghazali dengan gurunya Abu Hanifah, yang selalu berbeda pendapat satu sama lainnya, tetapi mampu untuk menghargai satu sama lainnya.
Bahkan al-Ghazali sendiri sangat kreatif sebagai murid, sehingga sering terkesan seperti menentang gurunya. Sampai-sampai terjadi 6.000 perbedaan pendapat dengan gurunya–seperti yang terjadi antara Imam Syafi’i dengan Imam Malik. Sementara itu Abu Hanifah lebih mementingkan penalaran. Maka dengan mudah sekali dibayangkan perbedaan antara mazhab Maliki dengan mazhab Hanafi. Bahkan menurut seorang kiai, perbedaan antara kedua mazhab itu menyangkut 14.000 bidang masalah. Kemudian tentang Ibn Hanbal, ia adalah murid Imam Syafi’i, tetapi kemudian mendirikan mazhab sendiri, yaitu mazhab Hanbali. Banyak sekali perbedaan mazhab Hanbali dengan mazhab Syafi’i. Meskipun begitu, keduanya tidak pernah saling bermusuhan, tidak pernah saling menyalahkan, dan tidak pernah saling mencerca, apalagi saling mengutuk.
Ketika Abu Hanifah ditanya mengenai polemik dan "serangan-serangan" yang ditujukan kepadanya, dia dengan tenang mengatakan, “ternyata kita benar tetapi masih ada kemungkinan salah, pendapat orang lain salah, tetapi ada kemungkinan benar”. Begitulah, dulu orang Islam menyikapi perbedaan pendapat. Karena itu sampai sekarang warisannya masih ada di kalangan para ulama, yaitu bahwa di ujung setiap persoalan selalu diucapkan "Wallahu'alamu bishshowab" (hanya Allah yang mengetahui yang benar), dan kita tidak tahu apa-apa.
Kisah imam al-Ghazali mengajarkan kepada kita, bahwa kita sebagai seorang murid harus merendahkan suara di majelis gurunya meski berbeda pendapat. Ia tidak boleh menunjukkan sikap dan perilaku tercela serta tidak pantas. Ia tidak boleh meninggalkan majelis guru untuk pulang sebelum waktu. Ia harus menyimak perkataan guru, serta setiap isyarat yang disampaikan oleh gurunya dengan ikhlas dan kearifan. Ia tidak boleh membebani guru dengan berbagai pertanyaan dan informasi yang memusykilkan dan cenderung memberatkan guru. “Setiap murid harus menjaga perasaan gurunya berkenaan dengan keyakinan, hati nurani dan kejiwaannya. Ia tidak boleh menantang wajah guru, agar tidak tertutup hikmah dan kearifan yang terpancar dari cahaya kerahmatan”
Sebaliknya, kita belajar dari Abu Hanifah (guru Imam al-Ghazali), bahwa sebagai guru, ia harus mampu menyampaikan materi pekajaran kepada murid dengan baik. Karena seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah “orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing”. Pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya kemudian mampu mengembangkannya (sebagaimana Imam al-Ghazali). Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.
Al-Ghazali berpendapat bahwa guru yang dapat diserahi tugas mendidik adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.
Allahu'alam, semoga kita semua menjadi guru maupun murid yang baik, guna mendapatkan ilmu yang berkah serta bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara.
-----------------------------------------
index : 1. http://zayyan-zulfahmi.blogspot.com/2011/04/etika-guru-dan-murid-dalam-pendidikan.html
2. http://studiislam.com/ensiklopedi-cak-nur/adab-guru-murid/





Poskan Komentar